Mengenang Mentari Diwaktu Subuh | Malam Kepergian sang Bunda

Opick Mataram Web
By -
0

3 Hari kemaren aku sempat membelikan ia eskrim, sempat memandikan tubuh renta diusianya yang ke 65Tahun. Sejak berapa tahun belakangan ini tubuh kekarnya menjadi semakin rapuh, Ia, Dia ibuku, sosok yang sangat sempurna dalam hidupku, Bagi seorang anak, Ibu semua ibu adalah orang yang paling dekat, orang yang paling berharga dan orang yang paling menyayangi kita, Karna kita tau jika dari tangan tangan lembutnyalah kehidupan kita dimulai.

Malam ini, ketika menjelang subuh, aku masih terjaga menemani tubuh kakunya, aku seakan tak mau beranjak jauh darinya meniti detik demi detik dimana aku tidak akan pernah melihat wajah lembutnya lagi di dunia ini.

3 malam ini aku tidak pernah merasa segalau ini, menemani detik detik terahir kehidupannya di rumah sakit. sungguh penyakit darah tinggi yang ia alami menghapus ketuaanya, ia kembali seperti anak kecil yang sulit untuk bicara, sulit berjalan, makan dan seumua aktifitas orang dewasa sudah hilang dari dirinya, ia kembali seperti sebgaimana aku kecil dulu.

Di akhir Detik detik kehidupannya aku semakin lekat menatap wajahnya yang seperti kembali seperti anak anak lagi. Kepolosannya saat memakan eskrim yang saya belikan di depan rumah ia kegirangan sebagaimana aku sering dibelikan sesuatu waktu masih kecil dulu.

Jujur, aku masih belum puas untuk membahagiakan mu di dunia ini, jasa mu tidak akan sebanding dengan dunia dan isinya, sungguh kegigihan mu mendidik dan menghidupiku akan menjadi ladang ladang syurgamu kini.

Ibu... Aku menyayangi mu, rasa ini abadi dan akan terus melekat dalam setiap do'a do'a ku. semoga engkau bahagia di alam sana, Hanya lantunan do'a dan dua kalimah syahadat yang bisa ku tuntun di telingamu di detik detik engkau meninggalkan kami untuk selamanya.

Aku harus kuat, aku harus merelakan mu, Allah mencintamu, aku adalah saksi akan semua kebaikan mu di dunia ini, sejujurnya aku harus bahagia, Allah telah memanggil mu saat ini, Allah menyayangi mu, Allah mencintai mu, itu adalah alibi terbesar dalam hati ini untuk mengusir kesedihaku dalam menerima kepergian mu.

Aku harus kuat, walaupun itu terpaksa, karna sungguh.. semua perjalanan , perjuangan yang kau jalani selama ini masih nampak jelas dimataku, 33 Tahun umur ku saat ini, selama itu kau selalu ada dalam setiap hidup ku, sebagai tiang penguat kehidupan ku, sebagai motifasi terbesar dalam hidup ku untuk membahagiakan mu.

Apalah arti air mata yang kadang tak terbendung, ia tidak akan mengembalikan mu, sehat mu, dan semua kebahagian mu, air mata hanyalah siraman jiwa untuk membasahi jiwaku yang yang gersang.

Terima kasih matahariku, cahaya hangat mu yang telah menerangi hidup ku, semoga kita berkumpul di Jannah nya kelak

Amin ya robbal alamin.. 



Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!